SEMARAKPOST | KEPAHIANG – Meski Program Makan Bergizi Gratis (MBG) digadang-gadang sebagai salah satu solusi untuk meningkatkan gizi sekaligus semangat belajar siswa, tren kelulusan tingkat Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Kepahiang justru menunjukkan penurunan dalam dua tahun terakhir.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Kepahiang, jumlah siswa SD yang dinyatakan lulus pada tahun ajaran 2024-2025 tercatat sebanyak 1.838 orang. Angka tersebut menurun dibandingkan tahun ajaran 2023-2024 yang mencapai 1.954 siswa.
Penurunan ini menjadi perhatian tersendiri, mengingat berbagai program peningkatan kualitas pendidikan dan pemenuhan gizi anak sekolah terus digencarkan pemerintah.
Berbeda dengan tingkat SD, jumlah kelulusan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Kepahiang justru mengalami peningkatan. Pada tahun ajaran 2024-2025, jumlah siswa SMP yang dinyatakan lulus mencapai 1.770 orang, naik dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah 1.660 siswa.
Namun demikian, persoalan pendidikan di Kabupaten Kepahiang belum sepenuhnya tuntas. Pada tahun ajaran 2025-2026 ini, masih terdapat 15 siswa yang terancam tidak lulus lantaran tidak mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepahiang, Nining, mengatakan siswa yang tidak mengikuti TKA memiliki potensi tidak dapat dinyatakan lulus apabila juga tidak mengikuti ujian susulan.
“Sebanyak 15 orang tidak mengikuti TKA. Jika tidak mengikuti TKA susulan maka berpotensi tidak lulus,” ujar Nining.
Kondisi tersebut menjadi catatan tersendiri bagi dunia pendidikan di Kabupaten Kepahiang. Sebab, masih adanya siswa yang berpotensi tidak lulus akibat tidak mengikuti ujian menunjukkan masih terdapat persoalan mendasar terkait kedisiplinan, motivasi belajar maupun tingkat partisipasi siswa dalam proses pendidikan.
Di sisi lain, berbagai klaim bahwa Program Makan Bergizi Gratis mampu meningkatkan semangat belajar dan kehadiran siswa di sekolah juga belum sepenuhnya tercermin dari data yang ada. Penurunan angka kelulusan SD dalam dua tahun terakhir serta masih ditemukannya siswa yang tidak mengikuti ujian menjadi indikator bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak bisa hanya bergantung pada satu program semata.(mat)













