Biang Keracunan Massal, Bakteri Berbahaya Ditemukan di Menu MBG

Penulis: Rahmat

Editor: Rahmat

Misteri penyebab belasan pelajar, guru hingga penjaga sekolah yang mengalami gejala diduga keracunan usai menyantap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Taba Tebelet akhirnya mulai menemukan titik terang.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kepahiang telah menerima hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan MBG yang sebelumnya menyebabkan para korban mengalami gatal-gatal, pusing, mual hingga sesak napas.

Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Bengkulu, sejumlah parameter yang diuji seperti Salmonella, Bacillus cereus, boraks, formalin dan nitrit tidak menunjukkan adanya kandungan yang menjadi penyebab utama kejadian tersebut.

Namun demikian, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang, dr. H. Tajri Fauzan, M.Si mengungkapkan, hasil laboratorium justru menunjukkan adanya keterkaitan kuat antara sampel makanan dengan hasil pemeriksaan muntahan para penderita.

“Hasil pemeriksaan laboratorium muntahan penderita menunjukkan adanya bakteri Staphylococcus aureus. Sementara hasil pemeriksaan laboratorium BPOM juga menunjukkan adanya cemaran Staphylococcus aureus pada sampel nasi sebesar 1,3 x 10 koloni per gram,” ujar Tajri di ruang kerjanya, Rabu (17/6/2026).

Menurut Tajri, adanya kesamaan temuan bakteri pada sampel klinis dan sampel makanan menjadi indikator kuat yang mendukung hubungan epidemiologis antara makanan yang dikonsumsi dengan gangguan kesehatan yang dialami para korban.

“Temuan ini menunjukkan adanya kesesuaian laboratorium antara sampel klinis penderita dan sampel makanan yang dikonsumsi. Ini mendukung dugaan kejadian keracunan pangan akibat kontaminasi Staphylococcus aureus,” jelasnya.

Ia menerangkan, bakteri tersebut diduga masuk ke dalam makanan melalui penjamah makanan, peralatan yang kurang higienis ataupun proses penyimpanan makanan matang yang tidak memenuhi standar sanitasi.

“Makanan yang terkontaminasi bakteri Staphylococcus aureus ini diduga berasal dari penjamah makanan, peralatan yang kurang higienis maupun proses penyimpanan makanan matang yang tidak memenuhi persyaratan sanitasi. Bakteri ini juga ditemukan pada muntahan penderita yang mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan tersebut,” tambah Tajri.

Seperti diketahui, menu MBG dari dapur SPPG Desa Taba Tebelet yang dikonsumsi para korban terdiri dari perkedel tahu, sambal telur, tumis kol dan jagung, nasi serta buah salak.

Kasus ini sempat menjadi perhatian publik di Kabupaten Kepahiang setelah belasan pelajar, guru dan penjaga sekolah mengalami gejala diduga keracunan sesaat setelah menyantap makanan dari program MBG tersebut. Kini, hasil laboratorium mengarah kuat pada dugaan kontaminasi bakteri Staphylococcus aureus sebagai pemicu kejadian tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *