SEMARAKPOST | KEPAHIANG – Polres Kepahiang telah mengantongi hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Taba Tebelet yang diduga menyebabkan belasan pelajar mengalami gangguan kesehatan pada 4 Juni 2026 lalu.
Dari hasil pemeriksaan terhadap sampel makanan berupa perkedel tahu, sambal telur, tumis kol dan jagung, nasi serta buah salak, diketahui bahwa nasi yang disajikan dalam menu MBG tersebut terkontaminasi bakteri Staphylococcus aureus.
Kapolres Kepahiang AKBP Yuriko Fernanda, SH, S.IK, MH, Senin (22/6/2026), mengungkapkan bahwa indikasi keracunan yang sempat menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) tersebut diduga kuat berkaitan dengan faktor higienitas dalam proses pengolahan maupun penyajian makanan.
Menurut Kapolres, penyidik saat ini masih mendalami sumber kontaminasi yang menyebabkan makanan MBG tersebut tercemar bakteri hingga memicu gejala klinis kesehatan pada para pelajar yang mengonsumsinya.
“Hasil dari pemeriksaan menu sampel makanan MBG serta muntahan korban dugaan keracunan ini masih kita lidik, apakah ada pengolah makanan yang kurang sehat atau kurang bersih cuci tangannya, atau tidak menggunakan APD yang lengkap yang menyebabkan kontaminasi terhadap makanan MBG,” ujar Kapolres.
Meski hasil pemeriksaan laboratorium telah diperoleh, Polres Kepahiang memastikan proses penyelidikan tidak akan berhenti. Aparat kepolisian akan terus menelusuri rangkaian penyebab terjadinya insiden yang sempat menjadi perhatian publik tersebut.
“Tetap akan kita lakukan penyelidikan pascamendapatkan hasil pemeriksaan menu sampel ini,” tegas Yuriko.
Lebih lanjut, Kapolres menjelaskan bahwa penyidik akan segera melakukan pemeriksaan terhadap pengelola dapur SPPG Desa Taba Tebelet. Langkah ini dilakukan untuk mengidentifikasi pihak-pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya kontaminasi makanan dalam program yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi pelajar tersebut.
Pemeriksaan terhadap seluruh pihak yang terlibat dalam proses pengolahan hingga distribusi makanan dinilai penting guna memastikan sumber kontaminasi serta mencegah kejadian serupa terulang kembali di masa mendatang.
Kasus dugaan keracunan massal yang terjadi usai konsumsi menu MBG itu sebelumnya menyebabkan belasan pelajar mengalami gejala seperti mual, muntah, pusing hingga gatal-gatal. Temuan adanya bakteri Staphylococcus aureus pada sampel nasi kini menjadi petunjuk penting dalam pengungkapan penyebab pasti insiden tersebut.
Polres Kepahiang menegaskan akan mengusut tuntas kasus tersebut demi memberikan kepastian hukum sekaligus menjamin keamanan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Kepahiang.












