SEMARAKPOST | KEPAHIANG – Pemandangan memprihatinkan terlihat di sepanjang ruas jalan menuju kawasan wisata Kabawetan, Kabupaten Kepahiang. Ratusan lubang yang selama bertahun-tahun menghiasi jalan tersebut akhirnya ditambal oleh masyarakat secara swadaya lantaran tak kunjung mendapat perbaikan permanen. Senin (27/7/2026)
Kerusakan jalan yang membentang sekitar 7 kilometer, mulai dari Desa Bogor Baru hingga kawasan wisata Kabawetan, selama ini dikeluhkan warga maupun pengendara. Kondisi aspal yang berlubang di banyak titik dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan sekaligus mengganggu akses menuju salah satu destinasi wisata andalan Kabupaten Kepahiang.
Merasa tidak bisa terus menunggu, masyarakat setempat berinisiatif bergotong royong menambal ratusan lubang menggunakan dana hasil patungan warga.
Alamsah, yang akrab disapa Anca, mengatakan aksi tersebut murni lahir dari kepedulian masyarakat terhadap keselamatan pengguna jalan.
“Jalan ini setiap hari dilalui masyarakat. Karena kondisinya banyak yang berlubang dan berpotensi menyebabkan kecelakaan, kami berinisiatif bergotong royong memperbaikinya semampu kami,” ujar Anca.
Ia menjelaskan, seluruh biaya yang digunakan untuk menambal jalan berasal dari sumbangan sukarela masyarakat. Dari hasil penggalangan tersebut, warga berhasil mengumpulkan dana sekitar Rp15 juta.
“Dana itu kami dapati dari kumpulan para warga, dapat kisaran Rp15 juta,” tambahnya.
Menurut warga, aksi gotong royong tersebut hanyalah solusi sementara untuk mengurangi risiko kecelakaan. Mereka menyadari perbaikan secara swadaya tidak akan bertahan lama, mengingat kondisi jalan yang sudah mengalami kerusakan cukup berat di banyak titik.
Masyarakat pun berharap Pemerintah Kabupaten Kepahiang maupun Pemerintah Provinsi Bengkulu segera mengambil langkah nyata dengan melakukan perbaikan permanen terhadap ruas jalan dari Desa Bogor Baru hingga Kabawetan.
Pasalnya, selain menjadi jalur utama aktivitas masyarakat, ruas jalan tersebut juga merupakan akses menuju kawasan wisata Kabawetan yang menjadi salah satu ikon pariwisata di Kabupaten Kepahiang. Warga khawatir apabila kerusakan terus dibiarkan, tidak hanya membahayakan pengguna jalan, tetapi juga berdampak pada menurunnya minat wisatawan untuk berkunjung.












