Banyak Muncul Berita Negatif, Bank Bengkulu Butuh Sosok Alternatif

SEMARAKPOST | KEPAHIANG – Sepanjang tahun 2026 berita negatif tentang Bank Bengkulu sering bermunculan di media sosial. Sejumlah peristiwa yang berurusan dengan Aparat Penegah Hukum (APH) berpotensi menimbulkan citra buruk di masyarakat.

Kasus penyaluran fasilitas Kredit Modal Kerja (KMK) pada tahun 2019 yang melibatkan petinggi Bank Bengkulu, merupakan salah satu kasus yang menjadi sorotan tajam publik.

Fenomena ini mengguncang kepercayaan publik. Sebagai tuan rumah, Bank Bengkulu harusnya melakukan penguatan internal secara maksimal. Juga penguatan stakeholder dan shareholder. Maka, butuh sosok alternatif yang menjadi solusi untuk kebangkitan Bank Bengkulu.

Agus Syabarrudin, menjadi sosok alternatif kebangkitan Bank Bengkulu tersebut. Bankir berprestasi ini siap tanda tangan kontrak mundur dari Direktur jika gagal membawa Bank Bengkulu lebih baik.

“Saya siap buktikan, 2 tahun Dirut, jika gagal saya mundur terhormat,” ungkap Agus.

Sudah Saatnya Agus Syabarrudin Memimpin Bank Bengkulu Mengejar Ketertinggalan dari Tetangganya yaitu Bank SumselBabel, Bank Nagari dan Bank Riau Kepri Syariah.

Lanskap industri perbankan daerah di Pulau Sumatera saat ini memperlihatkan dinamika persaingan yang semakin ketat. Bank Pembangunan Daerah (BPD) kini dituntut untuk tidak hanya sekadar eksis sebagai pemegang kas daerah, tetapi harus mampu berakselerasi menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi regional. Di tengah persaingan ini, posisi PT Bank Pembangunan Daerah Bengkulu (Bank Bengkulu) menjadi sorotan.

Meski mencatatkan tren pertumbuhan yang positif secara internal dari tahun ke tahun, secara skala bisnis, Bank Bengkulu nyatanya masih tertinggal cukup jauh jika dibandingkan dengan BPD di provinsi tetangganya, yakni Bank SumselBabel, Bank Nagari (Sumatera Barat), dan Bank Riau Kepri (BRK) Syariah.

Kondisi ini memicu satu urgensi: Bank Bengkulu membutuhkan sosok nakhoda baru yang bervisi tajam, kaya pengalaman, dan berani melakukan lompatan strategis. Momentum ini terasa semakin relevan seiring dengan berjalannya proses Fit and Proper Test di awal tahun 2026 bagi Dr. Agus Syabarrudin, M.Si., seorang bankir senior dengan rekam jejak transformatif yang gemilang, untuk menduduki kursi Direktur Utama Bank Bengkulu.

Realita Angka: Mengukur Jarak dengan Tetangga

Untuk memahami skala tantangan yang dihadapi Bank Bengkulu ke depan, harus dilihat secara objektif peta kekuatan finansial BPD di wilayah Sumatera berdasarkan publikasi kinerja terbaru mereka.

Berikut adalah perbandingan data statistik total aset dan laba bersih dari keempat bank daerah tersebut:

Bank Daerah Total Aset Terakhir Laba Bersih Terakhir Keterangan Periode
Bank Bengkulu Rp 11,19 Triliun Rp 135,14 Miliar Tahun Buku 2025
Bank SumselBabel Rp 39,8 Triliun Rp 521 Miliar Kuartal III (Sep 2025)
Bank Nagari Rp 33,11 Triliun Rp 540,47 Miliar Tahun Buku 2024
BRK Syariah Rp 32,83 Triliun Rp 339,37 Miliar 2024 (Aset: Nov ’24)
(Catatan: Angka dapat berubah menyesuaikan hasil audit RUPS final masing-masing bank).

Dari data di atas, terlihat jelas sebuah jurang skala (scale gap). Total aset Bank Bengkulu yang berada di kisaran Rp 11,19 triliun pada tahun 2025 hanya sepertiga dari total aset yang dimiliki oleh Bank SumselBabel (Rp 39,8 Triliun per September 2025) maupun Bank Nagari (Rp 33,11 Triliun pada 2024). Hal serupa juga tercermin pada perolehan laba bersih, di mana Bank Bengkulu membukukan laba Rp 135,14 miliar, masih harus berlari kencang untuk menyamai BRK Syariah yang mencatatkan laba Rp 339,37 miliar pada tahun 2024 ataupun Bank Nagari yang menembus Rp 540,47 miliar.

Pertumbuhannya mungkin konsisten, namun untuk benar-benar bersaing dan mendominasi, pertumbuhan organik yang biasa-biasa saja (business as usual) tidak lagi cukup. Bank Bengkulu membutuhkan anorganik growth dan transformasi bisnis yang radikal.

Menghadapi ketertinggalan ini, sosok Dr. Agus Syabarrudin hadir sebagai kepingan puzzle yang paling dibutuhkan. Ia bukanlah sekadar bankir birokrat, melainkan seorang “arsitek turnaround” spesialis bank daerah.

Rekam jejaknya berbicara lebih keras dari sekadar teori. Saat menjabat sebagai Direktur Utama Bank Kalsel, Dr. Agus sukses merestrukturisasi manajemen dan mengerek Tingkat Kesehatan Bank (TKB) dari peringkat 3 ke peringkat 2. Tangan dinginnya semakin teruji ketika beliau ditunjuk memimpin Bank Banten. Dalam waktu yang relatif singkat (2021-2022), ia berhasil menyelamatkan bank yang saat itu berstatus Bank Dalam Pengawasan Khusus (BDPK) kembali beroperasi normal dengan peningkatan permodalan dan profitabilitas yang nyata.

Untuk mengejar raksasa perbankan daerah seperti SumselBabel dan Nagari, Bank Bengkulu memerlukan keahlian spesifik yang dimiliki Dr. Agus saat bertugas sebagai Senior Executive Advisor di Fundbridge Globalink Investa (FGI). Pengalamannya dalam mengawal aksi korporasi besar—mulai dari mergers and acquisitions (M&A), restrukturisasi utang, hingga private equity investment—merupakan amunisi penting bagi Bank Bengkulu untuk mengeksekusi strategi ekspansi yang masif, termasuk potensi sinergi Kelompok Usaha Bank (KUB) atau akuisisi strategis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *