SEMARAKPOST | KEPAHIANG – Bupati Kepahiang, H. Zurdi Nata, S.IP, angkat bicara terkait kasus dugaan keracunan yang dialami 16 orang terdiri dari pelajar, guru, dan penjaga sekolah di SDN 18 Kepahiang usai mengonsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Bupati, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepahiang telah bergerak cepat sejak informasi adanya korban yang mengalami gejala diduga keracunan diterima. Melalui Dinas Kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan terkait, korban langsung mendapatkan penanganan medis.
“Saat kejadian Pemkab Kepahiang cepat tanggap, dalam hal ini menginstruksikan Dinas Kesehatan dan Puskesmas terkait untuk melakukan penanganan cepat terhadap korban,” ujar Bupati Zurdi Nata.
Ia menjelaskan, kasus yang saat ini masih berstatus indikasi keracunan tersebut sedang ditindaklanjuti oleh instansi berwenang. Namun demikian, Pemkab Kepahiang tidak memiliki kewenangan untuk merekomendasikan penghentian operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diduga menyalurkan makanan kepada para korban.
Bupati juga mengungkapkan bahwa selama sejumlah dapur SPPG beroperasi di Kabupaten Kepahiang, pihak pengelola tidak pernah melakukan koordinasi maupun rapat khusus bersama Pemerintah Kabupaten Kepahiang.
Padahal, menurutnya, Kabupaten Kepahiang telah memiliki Satuan Tugas (Satgas) MBG yang seharusnya dilibatkan secara aktif dalam proses pengawasan program tersebut.
“Sudah lama sejumlah dapur SPPG ini beroperasi di Kabupaten Kepahiang, tapi tidak pernah berkoordinasi maupun rapat bersama dengan Pemkab Kepahiang, padahal Satgas MBG daerah harusnya terlibat aktif dalam hal pengawasan. Sehingga dengan demikian, kita tidak ada wewenang untuk merekomendasikan SPPG tersebut berhenti beroperasi,” tegasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menyoroti minimnya keterlibatan pemerintah daerah dalam pengawasan operasional dapur MBG yang selama ini berjalan di wilayah Kabupaten Kepahiang.
Di sisi lain, Bupati Zurdi Nata berharap kasus dugaan keracunan yang menimpa para pelajar, guru, dan penjaga sekolah tersebut dapat diusut secara menyeluruh. Ia meminta semua pihak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang telah diambil oleh pihak terkait.
“Hasil laboratorium nantinya akan menjadi dasar untuk mengetahui penyebab pasti kejadian ini, sehingga langkah evaluasi dan perbaikan dapat dilakukan secara tepat,” pungkasnya.
Seperti diketahui, hingga Kamis (4/6/2026), sebanyak 16 orang yang terdiri dari 14 murid, satu guru, dan satu penjaga sekolah dilaporkan mengalami gejala seperti pusing, mual, dan muntah setelah menyantap makanan dari program MBG. Seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan terdekat dan sebagian besar dilaporkan dalam kondisi membaik.(mat)













