SEMARAKPOST | KEPAHIANG –Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini digadang-gadang menjadi salah satu instrumen pemerintah pusat dalam meningkatkan kualitas gizi sekaligus mendorong semangat belajar peserta didik, tampaknya belum sepenuhnya berdampak terhadap capaian pendidikan di Kabupaten Kepahiang.
Faktanya, tren jumlah siswa yang tidak lulus pada jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Kepahiang justru mengalami peningkatan pada tahun ajaran 2025/2026.
Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Kepahiang mencatat, sebanyak 14 peserta didik dinyatakan tidak lulus pada tahun ajaran 2025/2026. Jumlah tersebut meningkat dibanding tahun ajaran sebelumnya, 2024/2025, yang tercatat sebanyak 8 siswa tidak lulus.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepahiang, Dr. Nining Fawely Pasju, S.Pt, menjelaskan bahwa mayoritas peserta didik yang tidak lulus bukan disebabkan rendahnya nilai akademik, melainkan karena tidak mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu yang cukup lama.
“Ada 3 siswa SD dan 11 siswa SMP yang tidak lulus pada tahun ajaran ini, karena mereka memang tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar sejak awal semester tahun ajaran,” jelas Nining, Kamis (25/6/2026).
Kondisi tersebut menjadi perhatian tersendiri. Pasalnya, kehadiran Program MBG selama ini diharapkan mampu meningkatkan minat dan kehadiran siswa di sekolah melalui pemenuhan kebutuhan gizi harian.
Namun di lapangan, peningkatan jumlah siswa yang tidak lulus akibat tidak mengikuti proses belajar mengajar menunjukkan masih adanya persoalan mendasar yang belum terselesaikan, terutama terkait tingkat kehadiran dan risiko putus sekolah.
Dikbud menegaskan, status tidak lulus yang dialami para peserta didik tersebut bukan semata-mata karena capaian akademik yang rendah, tetapi lebih disebabkan karena mereka sudah tidak aktif mengikuti pembelajaran hingga satu semester penuh.
Situasi ini tentu menjadi evaluasi bersama, mengingat berbagai program pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan semestinya juga berdampak pada meningkatnya partisipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepahiang berkomitmen melakukan langkah-langkah pencegahan agar angka putus sekolah dapat ditekan pada tahun ajaran mendatang.
“Untuk menekan angka putus sekolah ini, kita menggandeng pemerintah desa, Bunda PAUD dan sejumlah pihak untuk mensosialisasikan pentingnya pendidikan dasar bagi anak, sehingga tidak ada lagi yang putus sekolah,” ujar Nining.
