SEMARAKPOST |KEPAHIANG — Upaya melestarikan warisan budaya lokal terus didorong melalui kegiatan kreatif yang melibatkan masyarakat secara langsung. Salah satunya melalui Workshop Anyaman yang difasilitasi Balai Pelestarian Kebudayaan Bengkulu dan diselenggarakan oleh Sugi Nopriandi.
Kegiatan ini menjadi ruang edukasi sekaligus praktik bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat kerajinan anyaman tradisional yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menyimpan kekayaan budaya dan kearifan lokal.
Dalam workshop tersebut, peserta akan diperkenalkan mulai dari dasar-dasar menganyam hingga teknik lanjutan. Tidak sekadar mendapatkan materi, peserta juga akan diajak mempraktikkan langsung proses penyusunan bilah anyaman hingga menghasilkan berbagai produk yang fungsional dan memiliki nilai seni.
Dengan pendampingan langsung dari tenaga yang berpengalaman, kegiatan ini diharapkan mampu memberikan pengalaman baru sekaligus mendorong masyarakat untuk melihat kerajinan tradisional sebagai karya kreatif yang memiliki potensi untuk dikembangkan.
Kegiatan Workshop Anyaman terbuka untuk masyarakat umum. Pelajar, mahasiswa, pemula maupun masyarakat yang memiliki ketertarikan terhadap kerajinan tangan dapat mengikuti kegiatan tersebut.
Menariknya, peserta juga akan mendapatkan fasilitas alat dan bahan selama kegiatan, sertifikat serta konsumsi.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Kepahiang, Dr. Nining Fawely Pasju, S.Pt., M.M., menyambut baik kegiatan yang dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal.
Menurut Nining, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan seremonial. Budaya harus terus diperkenalkan, dipelajari dan dipraktikkan oleh generasi muda maupun masyarakat agar tetap hidup dan berkembang.
«“Kegiatan seperti workshop anyaman ini sangat positif karena masyarakat tidak hanya mengenal budaya secara teori, tetapi juga langsung belajar dan menghasilkan sebuah karya. Ini bagian dari upaya kita menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman,” ujar Nining.»
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap kerajinan tradisional sekaligus membuka ruang kreativitas dan peluang ekonomi baru.
“Harapannya, keterampilan yang diperoleh tidak berhenti setelah workshop selesai. Bisa terus dikembangkan menjadi produk kreatif yang memiliki nilai jual, sehingga pelestarian budaya juga dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat,” tambahnya.
Melalui Workshop Anyaman ini, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu. Di tangan generasi kreatif, tradisi dapat diolah menjadi karya bernilai, memiliki daya saing dan bahkan menjadi peluang usaha.
Dengan demikian, pelestarian budaya tidak hanya menjaga identitas daerah, tetapi juga membuka jalan bagi lahirnya kreativitas dan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.
