Polisi Unjuk Gigi, Siap tuntaskan kasus kematian gita

SEMARAKPOST | KEPAHIANG – Polres Kepahiang akhirnya menetapkan satu orang tersangka dalam kasus kematian tragis seorang gadis muda asal Desa Batu Bandung, Kabupaten Kepahiang, Gita Fitri (25). Penetapan tersangka ini menjadi titik terang awal dari kasus yang sejak awal menyita perhatian publik dan memicu beragam spekulasi di tengah masyarakat.

Tersangka berinisial MK (57) ditetapkan oleh Polres Kepahiang dengan sangkaan kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang. Berdasarkan keterangan kepolisian, korban meninggal dunia akibat tersengat aliran listrik yang sengaja dipasang tersangka untuk menjerat babi di sekitar pondok miliknya.

Penetapan tersangka ini sempat melegakan publik, mengingat kasus kematian Gita sebelumnya menjadi “bulan-bulanan” masyarakat di media sosial dan ruang publik. Namun, di balik itu, rasa puas belum sepenuhnya dirasakan, baik oleh pihak keluarga korban maupun masyarakat luas. Pasalnya, hingga kini masih banyak tanda tanya yang dinilai belum terjawab secara tuntas.

Kasat Reskrim Polres Kepahiang, Bintang Yudha Gama, S.Tr.K., S.I.K., dalam keterangannya kepada awak media menjelaskan bahwa pada malam kejadian, Gita sengaja datang ke pondok MK untuk menemui beberapa rekannya, yakni JI, EF, dan WA.

“Gita datang untuk menemui rekannya yang memang sudah kenal sebelumnya, hanya sekadar berbincang,” ujar Kasat saat jumpa pers.

Namun, situasi berubah saat korban melihat sorot lampu sepeda motor yang mengarah ke pondok. Gita kemudian bertanya kepada salah satu rekannya, “Itu siapa?”, yang dijawab singkat, “Tidak tahu”. Tak lama setelah itu, Gita turun dari atas pondok dan berlari ke arah belakang. Di sanalah korban diduga tersengat aliran listrik yang sebelumnya dipasang untuk jerat babi, hingga akhirnya meninggal dunia.

Belakangan diketahui, sosok dengan sorot lampu tersebut adalah DS, yang tak lain merupakan teman mereka sendiri. Fakta ini justru menambah daftar kejanggalan. Jika yang datang adalah orang yang dikenal, mengapa korban terlihat ketakutan hingga memilih turun dan berlari?

Pertanyaan lain pun mencuat. Mengapa seorang perempuan yang disebut sudah terbiasa datang ke lokasi tersebut pada malam hari justru panik dan bertindak seolah tengah menghindari ancaman serius? Aktivitas apa sebenarnya yang berlangsung hingga membuat korban ketar-ketir?

Jurnalis Semarak Post sempat menanyakan langsung kepada pihak kepolisian terkait alasan ketakutan korban yang berujung pada tindakan kabur tersebut. Menanggapi hal itu, Kasat Reskrim menyebut kondisi lingkungan sebagai faktor utama.

“Di sana pernah kita pantau, kondisinya cukup sepi. Karena takut dengan kemungkinan yang bisa terjadi, korban turun ke bawah dulu. Untuk takut karena apa, saya rasa terlalu subjektif jawabannya,” jelasnya.

Pernyataan tersebut tentu membuka ruang tafsir yang lebih luas. Di satu sisi, korban disebut berada di lokasi yang relatif aman, yakni di atas pondok bersama beberapa orang. Namun di sisi lain, korban justru memilih menjauh dari tempat tersebut saat merasa takut. Sebuah logika yang hingga kini masih mengundang tanda tanya.

Untuk menjawab berbagai kejanggalan itu, pihak keluarga bersama kepolisian dikabarkan akan melakukan otopsi terhadap jasad Gita Fitri. Langkah ini diharapkan mampu mengungkap fakta-fakta baru dan memberikan kejelasan atas kematian tragis yang hingga kini masih diselimuti misteri.(mat)

Penulis: Bagus RahmatEditor: Bagus Rahmat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *