SEMARAKPOST – KEPAHIANG | Satu keluarga yang didapati di Kelurahan Padang Lekat masih memiliki kehidupan yang sangat miris.
Bagaimana tidak, untuk beristirahat saja keluarga ini masih mengkhawatirkan kondisi rumah mereka yang sangat-sangat darurat.
Klores, seorang buruh harian sekaligus menjadi tulang punggung dari keluarga kecilnya.
Bapak dari tiga anak tersebut harus membanting tulang agar dapat mencukupi kebutuhan.
Klores biasanya mengambil upah buruh harian untuk menyambung hidup. Klores mengaku, setiap satu hari bekerja diberikan upah sebesar Rp.50.000.
“Ikut kekebun, tukang harian, pokoknyo apo bae yang diajak orang jadi,” kata Klores dalam bahasa daerah Kepahiang. Minggu (31/8/2025)
Itu baru cerita kehidupannya, belum lagi soal rumah yang layaknya seperti kandang, berdindingkan pelupuh, beratapkan bambu, dan berlantaikan tanah.
Setiap hujan datang, Klores dan keluarga harus dikhawatirkan dengan keadaan yang berkemungkinan dapat membasahi dalam rumah mereka.
Namun apa yang bisa Klores dan keluarga lakukan? Hanya mencari tempat yang tidak bocor untuk dapat beristirahat.
“Yo bocor, dulu ini atap dari tepral, karna dimakan usia sekarang pakai bambu, pasti bocor,” ujar Klores.
Sebelumnya Klores ini hidup dengan berpindah-pindah, dari satu rumah kosong ke rumah kosong lainnya.
Untuk rumah miris yang ia huni kali ini ia dapatkan dari bantuan masyarakat yang rela bahu membahu untuk membantu.
Klores kepada media mengaku, bahwa keluarganya hanya sekali menerima bantuan berupa beras, dan tidak pernah menerima bantuan apapun selain itu.
“Beberapa bulan lalu dapat bantuan beras dari kantor lurah, cuma itu, sebelumnya tidak pernah dapat,” sampai Klores.
Sangat diharapkan untuk warga seperti ini mendapatkan sorotan dari pemerintah agar paling tidak kehidupannya sedikit lebih layak. Apa lagi masih memiliki anak yang masih sekolah, yang pastinya perlu belajar dengan tenang untuk menjamin masa depan dan merubah keluarga.













